Firman Tuhan Hari Ini



Firman Tuhan Untuk Hari Ini Bgiyanto Flickr

Renungan Pagi

April 20th

“ Maka aku melihat di tengah-tengah takhta dan keempat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu BERDIRI SEEKOR ANAK DOMBA SEPERTI TELAH DISEMBELIH, bertanduk tujuh dan bermata tujuh: itulah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi.” (Wahyu 5:6)

Dua belas tahun terakhir, saya sering bepergian ke Timur Tengah. Di awal masa-masa itu, anak perempuan saya yang tertua memilih untuk dibaptiskan di sungai Yordan. Saat itu sangat istimewa, walaupun mungkin bukan itu tempat dimana Yohanes membaptiskan banyak orang.

Beberapa tahun kemudian, anak perempuan bungsu saya mulai menunjukkan ketertarikan kepada baptisan. Saya ingatkan dia atas baptisan yang dialami kakaknya. Saya berpikir, dia pasti akan mencari ide yang lebih hebat dari pada kakaknya. Akhirnya dia berkata, “Saya mau dibaptiskan di Laut Merah, di tempat orang Israel menyeberang dulu.” Saya rasa dia tidak tahu bahwa, Paulus menghubungkan perjalanan menyeberani Laut Merah dengan baptisan Kristen dalam 1 Kor. 10:1-4.

Ahli arkeologi ternyata tidak terlalu yakin di mana tepatnya bangsa Israel melakukan perjalanan penyeberangan mereka. beberapa bahkan mengatakan bahwa mereka bukan menyeberangi Laut Merah (Red Sea), tetapi “lautan alang-alang (sea of reeds),” yang dapat ditemukan di sebuah danau di sebelah utara Laut Merah dekat Terusan Suez sekarang ini. Alkitab mengatakan bangsa Israel terkurung di antara gunung di sebelah kanan dan laut di sebelah kiri mereka (Kel. 14:1-4). Pantai Ain Sukhna di Mesir memiliki deskripsi yang cocok dengan penjelasan ini. Dan akhirnya beberapa teman dan saya membawa anak perempuan saya ke sana dan membaptiskannya pada musim panas 2011.

Kitab wahyu mendorong orang-orang Kristen untuk menjadikan kisah perjalanan bangsa Israel sebagai contoh dalam tindakan dan pengalaman masa kini. Anak Domba yang disembelih dalam Wahyu 5, mengingatkan pada Bait Suci orang Yahudi dan segala korban bakarannya. Malapetaka yang dalam Kitab Wahyu adalah mengambil contoh dari tulah yang terjadi di Kerajaan Mesir Kuno. Bahwa darah Domba Paskahlah yang melindungi bangsa itu dari tulah paling hebat. Dengan cara yang sama, darah Yesus juga melindungi umat-umat-Nya dari penghakiman Tuhan kepada manusia (Wahyu 7:3 ; 12:11). Sebagaimana Israel menjadi imamat yang rajani di Gunung Sinai, maka demikian juga para pengikut Yesus adalah imamat yang rajani yang berasal dari berbagai suku bangsa, kaum dan bangsa (Wahyu 5:9,10).

Kitab Keluaran adalah teladan bagi kehidupan orang Kristen masa kini. dan kisah Keluaran kita masing-masing terjadi ketika kita menguburkan diri kita yang lama dengan baptisan dan kemudian bangkit dengan hidup yang baru (Roma 6:3,4).

Tuhan, terima kasih atas hidup baru yang Engkau berikan kepadaku melalui kematian Yesus di kayu salib.

*Di ambil dari buku “Kabar Baik Dari Patmos”

April 19th

“ Maka aku melihat di tengah-tengah takhta dan keempat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu BERDIRI SEEKOR ANAK DOMBA SEPERTI TELAH DISEMBELIH” (Wahyu 5:6).

Coba bayangkan betapa mengejutkan ketika pemandangan ini terbaca dalam Kitab Wahyu. Wahyu 4 dan 5 menggambarkan Allah sebagai Pencipta Yang Maha Kuasa. Tampaknya Dia dapat melakukan apa saja yang Dia mau. Tetapi ketika masalah yang tidak dapat di atasi ini muncul (Wahyu 5:1-4), penyelesaiannya sungguh-sungguh mengejutkan. Allah menyelesaikan masalah alam semesta ini, melalui Anak Domba yang disembelih.

Mengapa Allah yang penuh kuasa tidak menyelesaikan masalah ini dengan menggunakan kekuasaan-Nya yang tidak terbatas? Mengapa Dia tidak segera membereskannya? Mengapa Dia mengambil resiko besar dengan mengutus Anak-Nya ke dunia, sementara Dia tahu bahwa manusia akan menolak-Nya dan bahkan akan membunuh-Nya dengan kejam? Karena hal yang baik akan terjadi ketika seseorang rela mengambil resiko. Jalan ini mungkin lebih susah atau lebih berbahaya dibandingkan pilihan yang lain, tetapi hasilnya sangat bernilai.

Misalnya, saya memikirkan tentang betapa berbedanya masa kecil saya dengan masa kecil anak- anak zaman sekarang. Kadang saya bertanya-tanya, bagaimana saya dan teman-teman saya bertahan hidup. Dengan gembira kami berkendara tanpa sabuk pengaman atau kantong udara. Dan pada masa itu, tidak ada cara membungkus obat-obatan yang aman buat anak-anak, seperti yang dibuat pada zaman ini.

Saya mengendarai sepeda berkeliling kota tanpa menggunakan helm dan minum air ledeng dari selang di taman, bukannya air destilasi dari toko kelontong. Saya dan kawan-kawan saya lolos dari pengawasan orang dewasa sepanjang musim panas dengan meninggalkan rumah di pagi hari dan bermain seharian di taman atau kadang berkeliling New York City naik kereta bawah tanah. Kami belajar untuk menghadapi orang-orang yang mengganggu kami, karena tidak ada orang dewasa yang melindungi kami.

Anda mungkin akan terkejut melihat resiko-resiko yang kami ambil dulu. Tetapi generasi saya telah menghasilkan generasi yang lebih berani mengambil resiko sekaligus pemecah masalah yang luar biasa. Kita memiliki kebebasan, kegagalan, kesuksesan, dan tanggung jawab, dan kita belajar untuk menghadapinya. Sementara beberapa perubahan dalam dunia pada saat ini berujung baik, tetapi karakter kita terbentuk pada saat kita berani mengambil resiko. Tetapi Allah tahu, untuk mendapatkan kehidupan yang berharga, resiko harus diambil. Saya berpikir, bahwa Allah tahu hal ini, itu sebabnya Dia mengutus Yesus untuk menebus kita.

Tuhan, terima kasih karena telah bersedia mengambil resiko besar saat Engkau datang untuk menyelamatkan kami.

*Diambil dari buku “Kabar Baik Dari Patmos”

April 18th

“Lalu berkatalah seorang dari tua-tua itu kepadaku: “Jangan engkau menangis! Sesungguhnya, SINGA dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah MENANG, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya.” (Wahyu 5:5).

Seorang mantan mahasiswa dan sahabat karib, Leslie Pollard membagikan puisi berikut ini dalam majalah Adventist Review terbitan Juli 2002. Puisi tersebut merangkumkan kemenangan Anak Domba :

“Dunia tidak sanggup membatasi Dia

Universitas tidak dapat menjelaskan Dia

Keadaan tidak dapat membatasi Dia

Penjara tidak dapat menahan Dia

Sebab Dia telah menang!

Parlemen tidak dapat menggulingkan Dia

Balatentara tidak dapat mengalahkan Dia

Pembuat petisi tidak dapat mengkritik Dia Pembuat lirik tidak dapat menyimpulkan Dia Sebab Dia telah menang!

Sejarawan tidak dapat menghapuskan Dia

Kelompok Skinhead tidak dapat merusak Dia Islam tidak dapat mengenyahkan Dia Paus tidak dapat menggantikan Dia Sebab Dia telah menang!

Filsuf tidak dapat mengabaikan Dia

Remaja tidak akan bosan dengan Dia

Para malaikat dengan senang hati memuji Dia Sebab Dia telah menang!

Waktu tidak dapat menghapuskan Dia

Kematian tidak dapat menghabisi Dia

Sebab Dia telah menang!”

Tuhan, Engkau Raja yang berkuasa, Tuhan atas segala sesuatu. Saat aku merenungkan Engkau, hatiku mampu bernyanyi.

*Diambil dari buku “Kabar Baik Dari Patmos”

April 17th

“ MAKA MENANGISLAH AKU DENGAN AMAT SEDIHNYA, karena tidak ada seorang pun yang dianggap layak untuk membuka gulungan kitab itu ataupun melihat sebelah dalamnya.” (Wahyu 5:4)

Ketika sering merasa tidak sebanding dengan tokoh-tokoh besar dalam Alkitab, menganggap bahwa orang-orang seperti Yohanes telah memiliki derajat kerohanian yang jauh lebih tinggi dari kita. Padahal Alkitab mengundang kita untuk meneladani kehidupan orang-orang tersebut dalam kehidupan kita (1 Kor. 4:6,7, 16 ; 11:1 ; 1 Tes. 1:6,7). Walaupun kita seharusnya berlomba-lomba untuk menjadi seperti Yesus (2 Kor. 3:17,18 ; 1 Kor. 4:17), tetapi kita dapat juga mengambil banyak pelajaran dari mereka.

Dalam ayat hari ini, Yohanes turut serta dalam penglihatannya sendiri. Membesarkan hati ketika nabi itu menggambarkan dirinya bukan sebagai orang suci yang besar, tetapi sebagai manusia biasa yang melakukan kesalahan dan terkadang bingung dengan situasi yang ada. Dalam Wahyu 5:4, dia menangis karena dia tidak tahu apa yang sedang terjadi di surga. Dia melihat kejadian itu, tetapi dia tidak mengerti apa-apa. Seorang dari tua-tua itu berkata kepadanya dalam Wahyu 7:13,14. Dan dia tidak tahu menjawab pertanyaan itu. Dan kemudian dalam Wahyu 19:9,10 dan 22:8,9, dia jatuh tersungkur menyembah seorang malaikat, tapi kemudian ditegur karena dia tidak seharusnya melakukan itu. Rasanya tidak mungkin seorang Yohanes menghadapi kesulitan seperti itu, namun itulah dia apa adanya. Seorang manusia.

Saya sendiri bisa melakukan kebodohan dalam hidup saya. Saya teringat ketika di sekolah menengah, sebuah paduan suara universitas datang dan dipimpin oleh seorang yang bergelar doktor musik. Saya tidak terkesan dengan paduan suara ini. Jadi setelah penampilan mereka selesai, kepada teman-teman saya jelaskan bahwa orang-orang dengan gelar doctor biasanya tidak lebih baik daripada mereka yang bergelar lebih rendah. Di tengah-tengah pembicaraan, saya menoleh ke belakang dan melihat dia berdiri di sana, mendengarkan semua kata-kata saya. Saat itu, saya merasa benar-benar bodoh!

Kabar baiknya adalah para pembaca dapat merasakan kelemahan dan pergumulan yang dialami Yohanes dan tokoh-tokoh Alkitab lainnya. Seperti Elia yang mudah putus asa dan bersedih hati, tetapi dengan perintah Tuhan, dia dapat menghentikan hujan. Yohanes Pembaptis mempertanyakan apakah Yesus itu adalah Mesias, tetapi Yesus menyebut dia nabi besar (Matius 11:1-13). Ayub dan Yeremia adalah “orang suci” yan berharap tidak dilahirkan ke dunia ini (Ayub 3:3 ; Yeremia 20:14,15). “”Suatu pengharapan bagi kita yang hancur, bahwa melalui kasih karunia Allah, kita memperoleh kuasa untuk bangkit dari sifat jahat; dan bila kita mengerti hal ini, maka kita pun siap untuk mengalahkan kekurangan-kekurangan kita.”

Tuhan, aku sering sedih dan putus asa, tetapi sekarang aku akan bangkit dan mencoba lagi, dengan pengharapan yang datang dari pada-Mu.

*Diambil dari buku “Kabar Baik Dari Patmos”

April 16th

“ Maka aku melihat di tangan kanan Dia yang duduk di atas takhta itu, sebuah gulungan kitab, yang ditulisi sebelah dalam dan sebelah luarnya dan dimeterai dengan tujuh meterai. Dan aku melihat seorang malaikat yang gagah, yang berseru dengan suara nyaring, katanya: “SIAPAKAH YANG LAYAK MEMBUKA GULUNGAN KITAB ITU dan membuka meterai-meterainya?” TETAPI TIDAK ADA SEORANG PUN YANG DI SORGA ATAU YANG DI BUMI ATAU YANG DI BAWAH BUMI, YANG DAPAT MEMBUKA GULUNGAN KITAB ITU atau yang dapat melihat sebelah dalamnya. Maka menangislah aku dengan amat sedihnya, karena TIDAK ADA SEORANG PUN YANG DIANGGAP LAYAK UNTUK MEMBUKA GULUNGAN KITAB ITU ATAUPUN MELIHAT SEBELAH DALAMNYA.” (Wahyu 5:1-4)

Latar Wahyu pasal 5 dibangun dari pasal sebelumnya. Wahyu 4 menggambarkan kenyataan umum ruang takhta surgawi. Takhta itu terletak di tengah-tengah ruangan, dan segala sesuatu yang terjadi berkaitan dengan takhta itu. Hal utama yang berlangsung adalah penyembahan. Berulang kali dalam kedua pasal ini, keempat makhluk menyanyi dan semakin banyak penyembah berpadu. Namun ada perbedaan besar antara pasal 4 dan 5. Sementara pasal 4 menggambarkan kenyataan umum ruang takhta surgawi, pasal 5 melukiskan waktu yang spesifik. Suatu krisis terjadi di ruang takhta alam semesta. Tiba-tiba pujian penyembahan terhenti, dan semua menatap ke tengah-tengah ruangan dengan hening, lalu bertanya, “Apakah yang terjadi?”

Apakah masalahnya? Mereka melihat sebuah gulungan kitab yang tidak dapat dibuka siapa pun juga. Walaupun pada mulanya ini seperti perkara remeh, keheningan di surga serta Yohanes yang sedih menangis ini adalah krisis antara hidup dan mati. Harus ditemukan seseorang yang dapat membuka gulungan kitab itu. Semakin memperberat drama ini adalah fakta bahwa gulungan kitab ini adalah milik Allah sendiri, Dia yang duduk di atas takhta. Tidak bisakah Allah sendiri yang membukanya?

Inti adegan ini adalah, alam semesta menghadapi masalah besar, begitu besar sehingga Allah sendiri enggan menanganinya. Allah tentu saja berkuasa mengambil alih kendali seandainya Dia menginginkannya. Tetapi itu tidak berarti Dia berhak.

Jadi pada akhirnya, hanya Seorang yang “layak” yang bisa menyelesaikan permasalahan itu.

Kata “layak” sebenarnya berasal dari Wahyu 4:11, “ Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu…” Layak berarti pantas atau cocok untuk suatu tugas. Di sini tugasnya adalah membuka gulungan Kitab. Menjadi Allah saja tidak cukup. Permasalahan untuk membuka gulungan kitab itu adalah menuntut kualifikasi khusus. Hanya kematian Anak Domba yang membuat-Nya pantas membuka gulungan kitab itu.

Terima kasih Yesus, atas jalan sengsara yang membuat Engkau layak untuk tugas terbesar ini.

*Diambil dari buku “Kabar Baik Dari Patmos”

April 15th

“ MAKA AKU MELIHAT DI TANGAN KANAN DIA YANG DUDUK DI ATAS TAKHTA ITU, SEBUAH GULUNGAN KITAB, YANG DITULISI SEBELAH DALAM DAN SEBELAH LUARNYA DAN DIMETERAI DENGAN TUJUH METERAI… Lalu berkatalah seorang dari tua-tua itu kepadaku: ” Jangan engkau menangis! Sesungguhnya, SINGA DARI SUKU YEHUDA, YAITU TUNAS DAUD, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu…”

Banyak terjemahan Alkitab mengatakan bahwa gulungan kitab ada di tangan kanan Dia yang duduk di atas takhta. Namun penelitian baru-baru ini mengatakan bahwa frasa “di tangan kanan” mungkin sebenarnya berarti “di sebelah kanan”. Ini masuk akal dengan mempertimbangkan bagaimana dunia zaman purba memandang takhta. Orang-orang pada zaman itu biasanya merasa bahwa tempat di sebelah kanan raja adalah tempat paling terhormat. Mazmur 80:17 dan 110:1 menggambarkan raja Israel duduk di sebelah kanan Allah, dan dia serta Allah bersama-sama memerintah bangsa itu.

Kebanyakan singgasana zaman kuno cukup besar dapat diduduki tiga atau empat orang. Para pembaca kuno telah dianggap mengerti bahwa gulungan kitab itu diletakkan di atas takhta di sebelah kanan Allah. Kalau begitu, untuk mengambil gulungan itu berarti seseorang harus duduk di atas takhta, di sebelah kanan Allah. Dengan kata lain, ketika Yesus mengambil kitab ini dengan tangan-Nya, Dia juga duduk di sebelah kanan Bapa-Nya, menerima peran-Nya sebagai raja yang baru dari garis keturunan Daud (Wahyu 5:5).

Dalam zaman Perjanjian Lama, Bangsa Israel pernah mengalami situasi tidak memiliki seorang raja, tetapi diperintah langsung oleh Tuhan. Bangsa ini tidak mempunyai pusat kontrol yang jelas. Walaupun sebenarnya memiliki seorang raja dapat mengalihkan pandangan bangsa ini dari Tuhan, tetapi dalam praktiknya, tanpa adanya pemerintahan dunia, keadaan akan menjadi kacau (Hak. 17:6 ; 21:25). Jadi Allah mengizinkan mereka untuk mengadakan sistem kerajaan dengan Saul dari suku Benyamin sebagai raja pertama dan Daud dari suku Yehuda sesudahnya. Masa pemerintahan Daud sangat diberkati Tuhan dibandingkan dengan saat Saul memerintah, dan saat Salomo memerintah, pemerintahannya menjadi model pemerintahan yang ideal.

Jadi konsep kerajaan Daud ada di balik kisah dalam Wahyu 5. Anak Domba itu adalah “Singa Yehuda” dan “Tunas Daud”. Tidak ada lagi dalam Perjanjian Baru di mana Yesus duduk di sebelah kanan Bapa-Nya di atas takhta di surga (Matius 26:64 ; Ibrani 8:1). Jadi ketika Yesus datang dan mengambil gulungan kitab itu, Dia sedang mengambil tempat-Nya di atas takhta di Bait Suci surgawi.

Tuhan, ini kabar yang luar biasa. Dia yang memerintah atas langit dan bumi adalah Anak Domba yang telah disembelih. Dia tahu seperti apa kehidupanku dan apa yang aku rasakan. Aku bisa memercayai Dia untuk memerintah dengan bijaksana, adil, dan penuh kasih.

*Diambil dari buku “Kabar Baik Dari Patmos”

April 14th

” Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; DAN OLEH KARENA KEHENDAK-MU SEMUANYA ITU ADA DAN DICIPTAKAN.” (Wahyu 4:11)

Di bulan Desember setiap kami menerima kalender gratis di pusat perbelanjaan. Kalender ini berisi gambar-gambar pemandangan indah di sekitar kota kami yang diatur dengan baik. Tapi tujuan utama kalender ini bukanlah supaya kami tahu tentang waktu dan tanggal. Kalender ini berasal dari Pabrik Nuklir Cook, yang terletak 10 mil sebelah barat dari rumah kami. Kalender gratis ini diberikan untuk memastikan bahwa semua penduduk di daerah sekitar memahami tanda-tanda dan rute evakuasi jika seandainya kecelakaan nuklir terjadi. Pabrik ini dibangun di antara bukit pasir dan tepian Danau Michigan. Jauh di dalam pusat pabrik terdapat cukup tenaga nuklir untuk membakar sebagian besar kota tempat saya tinggal. Yang lebih buruk lagi, angin berhembus dari arah pabrik menuju daerah tempat tinggal kami. Dan ternyata, jembatan untuk evakuasi menuju ke timur letaknya satu mil lebih dekat ke pabrik daripada ke rumah kami. Bayangkan bila sesuatu terjadi, satu mil itu bisa jadi sangat mematikan.

Alasan mengapa kami semua “rela” hidup dalam bayang-bayang bahaya nuklir seperti itu adalah, karena kami sangat membutuhkan listrik. Kehidupan tidak berjalan baik tanpa listrik. Coba bayangkan mengawetkan dan memasak makanan, mencuci dan merapikan pakaian, jam, lampu dan pendingin ruangan, semuanya tanpa listrik. Hampir semua yang digunakan untuk kenyamanan manusia, tidak akan berjalan tanpa adanya listrik. Dengan kata lain, kebanyakan kami tergantung kepada monster listrik itu. Dan mungkin tidak ada salahnya memiliki ketergantungan yang sedemikian rupa.

Allah telah membentuk alam semesta yang di dalamnya setiap bagian harus bergantung kepada bagian yang lain. Pepohonan menyerap napas yang kita hembuskan dan sebagai gantinya memberikan kita oksigen. Burung-burung tertentu senang mencari makan di punggung badak, dan sebagai gantinya, hewan besar ini dapat lepas dari serangga dan mendapatkan garukan punggung gratis. Manusia bergantung pada tumbuh-tumbuhan dan hewan untuk makanan mereka, dan kita semua bergantung kepada Pencipta kita.

Yesus adalah manusia terbesar yang pernah hidup. Tetapi bahkan Yesus bergantung kepada Bapa-Nya dan meminta tuntunan serta bimbingan (Yoh. 5:19 ; 8:29). Dalam kemanusiaan-Nya, Dia bangun setiap pagi sebelum matahari terbit, pergi berdoa kepada Dia yang telah mengutusnya (Markus 1:35). Walaupun Dia turun dari surga, namun Dia tidak bergantung pada diri-Nya sendiri. Allah adalah sumber kuasa yang besar bagi seluruh alam semesta, maka tersambunglah pada sumber kuasa itu dan lampu Anda akan menyala.

Tuhan, aku diingatkan kembali bahwa aku bergantung pada-Mu. Gunakan aku hari ini sesuai kehendak-Mu.

*Diambil dari buku “Kabar Baik Dari Patmos”

Gallery Firman Tuhan Hari Ini

Hari 10 Firman Tuhan Hari Ini Mat 9 12 13

Firman Tuhan Hari Ini Inspirasifirmansh Ayatalkitab

Bibleforkids Instagram Photo And Video On Instagram

Hari 9 Firman Tuhan Hari Ini Mat 9 6 8

Sadar Setiap Hari Bersama Yesus Thomas Didimus Angandrowa

Sudahkah Kamu Membaca Firman Tuhan Hari Ini Ask Fm Vanalevana

Komisi Remaja Gki Palsigunung Korempalsi Instagram Profile

24 April 2017 Renungan Keluarga Allah Hari 1 Menggali

Hari 23 Firman Tuhan Hari Ini Yohanes 7 16

Rhk Jumat 23 Februari 2018 Firman Allah Tidak Dapat

Pujian Dan Penyembahan Firman Tuhan Hari Ini Jumat 12 Juni

Firman Tuhan Hari Ini Photos Facebook

Revival Stories Highlights Photos And Videos Hashtag On

5 Ayat Alkitab Yang Menguatkanmu Saat Kamu Merasa Lelah

5 Ayat Alkitab Yang Menguatkanmu Saat Kamu Merasa Lelah

Anniversary 2007 06 Jpg

Stemi Instagram Posts Photos And Videos Instazu Com

Media Tweets By Albata Albatatsi Twitter

Bible Verses Quotes

Hari 1 Firman Tuhan Hari Ini Yoh 1 1 2

Sharing Apa Pengaruh Doa Membaca Firman Tuhan Dalam

Ir1 Kamedia Instagram Post Photo Sudahkah Anda Baca Firman


Belum ada Komentar untuk "Firman Tuhan Hari Ini"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel