Puisi Diponegoro Karya Chairil Anwar



Puisi Aku Chairil Anwar 6nq8g8xdd2nw

Kumpulan Puisi Chairil Anwar Lengkap

Kumpulan Puisi Chairil Anwar – Nama Chairil Anwar abadi bersama puisi-puisi nya yang tak lekang oleh waktu hingga saat ini. Beliau sosok penyair angkatan 45 bersama Asrul Sani dan Rivai Apin. Chairil lahir dan dibesarkan di Medan, sebelum pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) dengan ibunya pada tahun 1940, dimana ia mulai menggeluti dunia sastra. Setelah mempublikasikan puisi pertamanya pada tahun 1942, Chairil terus menulis.  (*wikipedia)

Pusinya menyangkut berbagai tema, mulai dari Puisi Chairil anwar Tentang Cinta, Puisi Chairil Anwar Ibu,  pemberontakan, kematian, individualisme, dan eksistensialisme, hingga tak jarang multi-interpretasi.

Kumpulan Puisi Chairil Anwar.

 Aku Kalau sampai waktuku ‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu Tidak juga kauTak perlu sedu sedan ituAku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuangBiar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjangLuka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih periDan akan akan lebih tidak perduliAku mau hidup seribu tahun lagi

TAK SEPADAN

Aku kira:

Beginilah nanti jadinya

Kau kawin, beranak dan berbahagia

Sedang aku mengembara serupa Ahasveros

Dikutuk-sumpahi Eros

Aku merangkaki dinding buta

Tak satu juga pintu terbuka

Jadi baik juga kita padami

Unggunan api ini

Karena kau tidak ‘kan apa-apa

Aku terpanggang tinggal rangka

Februari 1943

Senja di Pelabuhan Kecil

Buat Sri Ayati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta di antara gudang, rumah tua, pada cerita tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang menyinggung muram, desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak dan kini tanah dan air tidur hilang ombak

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan menyisir semenanjung, masih pengap harap sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.

Cintaku Jauh di Pulau Cintaku jauh di pulau Gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar angin membantu, laut terang, tapi terasa aku tidak ‘kan sampai padanya

Di air yang tenang, di angin mendayu di perasaan penghabisan segala melaju Ajal bertakhta, sambil berkata: “Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”

Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh! Perahu yang bersama ‘kan merapuh Mengapa Ajal memanggil dulu Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau, kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.

Kawanku dan Aku Kami sama pejalan larut Menembus kabut Hujan mengucur badan Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan

Darahku mengental pekat. Aku tumpat pedat

Siapa berkata-kata? Kawanku hanya rangka saja Karena dera mengelucak tenaga

Dia bertanya jam berapa?

Sudah larut sekali Hilang tenggelam segala makna Dan gerak tak punya arti

Kepada Kawan Sebelum ajal mendekat dan mengkhianat, mencengkam dari belakang ‘tika kita tidak melihat, selama masih menggelombang dalam dada darah serta rasa,

belum bertugas kecewa dan gentar belum ada, tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam, layar merah berkibar hilang dalam kelam, kawan, mari kita putuskan kini di sini: Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri!

Jadi Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan, Tembus jelajah dunia ini dan balikkan Peluk kucup perempuan, tinggalkan kalau merayu, Pilih kuda yang paling liar, pacu laju, Jangan tambatkan pada siang dan malam Dan Hancurkan lagi apa yang kau perbuat, Hilang sonder pusaka, sonder kerabat. Tidak minta ampun atas segala dosa, Tidak memberi pamit pada siapa saja! Jadi mari kita putuskan sekali lagi: Ajal yang menarik kita, ‘kan merasa angkasa sepi, Sekali lagi kawan, sebaris lagi: Tikamkan pedangmu hingga ke hulu Pada siapa yang mengairi kemurnian madu!!!

Doa kepada pemeluk teguh

Tuhanku Dalam termangu Aku masih menyebut namaMu

Biar susah sungguh mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku di pintuMu aku mengetuk aku tidak bisa berpaling

Kepada Peminta-minta Baik, baik, aku akan menghadap Dia Menyerahkan diri dan segala dosa Tapi jangan tentang lagi aku Nanti darahku jadi beku

Jangan lagi kau bercerita Sudah tercacar semua di muka Nanah meleleh dari muka Sambil berjalan kau usap juga

Bersuara tiap kau melangkah Mengerang tiap kau memandang Menetes dari suasana kau datang Sembarang kau merebah

Mengganggu dalam mimpiku Menghempas aku di bumi keras Di bibirku terasa pedas Mengaum di telingaku

Baik, baik, aku akan menghadap Dia Menyerahkan diri dan segala dosa Tapi jangan tentang lagi aku Nanti darahku jadi beku

Cerita Buat Dien Tamaela Beta Pattirajawane Yang dijaga datu-datu Cuma satu

Beta Pattirajawane Kikisan laut Berdarah laut

Beta Pattirajawane Ketika lahir dibawakan Datu dayung sampan

Beta Pattirajawane, menjaga hutan pala Beta api di pantai. Siapa mendekat Tiga kali menyebut beta punya nama

Dalam sunyi malam ganggang menari Menurut beta punya tifa, Pohon pala, badan perawan jadi Hidup sampai pagi tiba.

Mari menari! mari beria! mari berlupa!

Awas jangan bikin beta marah Beta bikin pala mati, gadis kaku Beta kirim datu-datu!

Beta ada di malam, ada di siang Irama ganggang dan api membakar pulau…

Beta Pattirajawane Yang dijaga datu-datu Cuma satu

Sebuah Kamar Sebuah jendela menyerahkan kamar ini pada dunia. Bulan yang menyinar ke dalam mau lebih banyak tahu. “Sudah lima anak bernyawa di sini, Aku salah satu!”

Ibuku tertidur dalam tersedu, Keramaian penjara sepi selalu, Bapakku sendiri terbaring jemu Matanya menatap orang tersalib di batu!

Sekeliling dunia bunuh diri! Aku minta adik lagi pada Ibu dan bapakku, karena mereka berada d luar hitungan: Kamar begini 3 x 4, terlalu sempit buat meniup nyawa!

Hampa

Kepada Sri Sepi di luar. Sepi menekan-mendesak Lurus kaku pohonan. Tak bergerak Sampai di puncak. Sepi memagut, Tak satu kuasa melepas-renggut Segala menanti. Menanti. Menanti Sepi Tambah ini menanti jadi mencekik Memberat-mencengkung punda Sampai binasa segala. Belum apa-apa Udara bertuba. Setan bertempik Ini sepi terus ada. Dan menanti.

PRAJURIT JAGA MALAM

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?

Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,

bermata tajam

Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya

kepastian ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini

Aku suka pada mereka yang berani hidup

Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam

Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!

YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS 

Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,

Menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,

Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;

Tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku.

RUMAHKU Rumahku dari unggun-timbun sajak Kaca jernih dari luar segala nampakKulari dari gedong lebar halaman Aku tersesat tak dapat jalanKemah kudirikan ketika senjakala Di pagi terbang entah ke manaRumahku dari unggun-timbun sajak Di sini aku berbini dan beranakRasanya lama lagi, tapi datangnya datang Aku tidak lagi meraih petang Biar berleleran kata manis madu Jika menagih yang satu27 april 1943 PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji

Aku sudah cukup lama dengan bicaramu

dipanggang diatas apimu, digarami lautmu

Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945

Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu

Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

SAJAK PUTIH Bersandar pada tari warna pelangi Kau depanku bertudung sutra senja Di hitam matamu kembang mawar dan melati Harum rambutmu mengalun bergelut sendaSepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba Meriak muka air kolam jiwa Dan dalam dadaku memerdu lagu Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka Selama matamu bagiku menengadah Selama kau darah mengalir dari luka Antara kita Mati datang tidak membelah… 1944

Klik no halaman untuk melihat Puisi indah lain nya

Gallery Puisi Diponegoro Karya Chairil Anwar

Puisi Chairil Anwar Bertema Perjuangan

Puisi Diponegoro Karya Chairil Anwar

Puisi Chairil Anwar Yang Menarik Unik Dan Menginspirasi

Puisi Diponegoro 8x4emjpd59l3

Doc Diponegoro Karya Chairil Anwar Ninik Nurjayanti

Puisi Diponegoro 8x4emjpd59l3

Puisi Diponegoro Karya Chairil Anwar Kumpulan Contoh Puisi

Puisi Chairil Anwar Yang Menarik Unik Dan Menginspirasi

Puisi Diponegoro Cipta Karya Chairil Anwar Bang Isman

Puisi Chairil Anwar Yang Menarik Unik Dan Menginspirasi

Puisi Karawang Bekasi Karya Chairil Anwar Kumpulan Puisi

Puisi Diponegoro 8x4emjpd59l3

Puisi Chairil Anwar Yang Menarik Unik Dan Menginspirasi

Pdf Nationalism Inside The Poem Of Diponegoro By Chairil

Puisi Diponegoro Maha Karya Dari Chairil Anwar Puisi

Puisi Diponegoro Karya Chairil Anwar By Shevananda By

20 Puisi Chairil Anwar Aku Doa Karawang Bekasi Terbaik

Kumpulan Puisi Chairil Anwar For Android Apk Download

Jenis Puisi Dan Contohnya

I Am The Wild Animal Chairil Anwar By William Anwar

Puisi Diponegoro Karya Chairil Anwar

Puisi Diponegoro Karya Chairil Anwar Juara 2

Aliran Karya Sastra

Deklamasi Puisi Diponegoro Karya Chairil Anwar Oleh Anjas

Puisi Aku Chairil Anwar 6nq8g8xdd2nw

Kumpulan Puisi Dan Unsur Intrinsiknya

20 Puisi Chairil Anwar Sang Bohemian Yang Menginspirasi

Puisi Diponegoro Karya Chairil Anwar Doc


Belum ada Komentar untuk "Puisi Diponegoro Karya Chairil Anwar"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel